Dewi Malam

Malam menyelimuti kota Jakarta di bagian barat, entah sudah berapa banyak kendaraan yang lewat, lampu jalan kian mantap menerangi sekitarnya hingga larut tanpa mengurangi energi nya sedikitpun.

Tenda biru tempat pengisi perutpun perlahan telah terlipat rapih untuk siap dibawa pulang oleh sang pemilik nya, tanpa belas kasihan mereka tega meninggalkan lapak tempat mencari nafkah dengan tumpukan sampah yang enggan untuk bertahan setinggi itu.

Halte bus yang biasanya dipenuhi oleh pelajar, karyawan, pengamen atau siapapun itu, pada malam ini disulap menjadi kamar yang memberi kenyamanan bagi seorang tuna wisma.

Motor malam pun keluar dengan suara yang khas, suara yang mungkin bisa membangunkan gerombolan anjing liar di penghujung jalan ini, tanpa ampun suara itu menjadi lantunan syair merdu malam itu.

Perlahan tetapi pasti, entah itu pria atau wanita mulai kembali ke tempat tinggal sementara mereka ( kostan ), mengumpulkan kembali energi yang telah dikuras hari itu untuk melakukan rutinitas mereka.

Entah sudah berapa malam saya melewati suasana seperti ini, hanya ditemani oleh hembusan angin malam,mtanpa sadar pun saya terbawa menikmati hembusan angin malam itu dengan perasaan yang hambar, tetapi angin itu tetap setia menemani saya di setiap malam nya..

Dan angin itu pula lah yang menjadi teman saya untuk mencurahkan rasa rindu kepada seseorang diluar sana.

Saat saya menyadari bahwa angin malam lah yang telah membantu saya menyampaikan rasa rindu ini kepada seseorang di sana, sejak saat itu pula lah pemberian nama Dewi Malam saya sematkan kepada sang angin malam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s