Warung kopi !

” bang kopi susu ya biasa sama roti bakar keju satu “… Ya itu adalah sepenggal pesanan dari seorang pengunjung warung kopi di seberang kampus saya. Mungkin hanya berukuran 5×5 meter saja, tanpa pintu, dihiasi dengan kalender yang terpaku di dekat tv yang terpampang jelas di tengah ruangan itu, meja kayu panjang menjadi pasangan kursi kayu yang pas di pinggirnya

Ga kaya biasanya saya menyempatkan diri untuk mapir ke warung kopi itu, udara panas yang ditemani dengan cahaya terik siang itu, tepat diujung warung saya mengambil alih tempat duduk dengan secangkir kopi susu panas menjadi sahabat saya siang itu.

Terhitung sudah sekitar 3 pria silih berganti keluar masuk warung kopi itu setelah saya mengambil alih posisi paling ujung dalam ruangan itu, entah hanya sekedar menitipkan helm, atau ingin menikmati kopi susu khas yang ditawarkan di sana. Sendiri atau ditemani dengan sahabat pria lainnya, tetapi mereka seperti memiliki aktifitas yang sudah rutin dilakukan disana.

Susasana santai pun menyelimuti saya memperhatikan kesibukan si empunya warung menservice pelanggan di siang itu, saya pun tidak hentinya menyeruput kopi pesanan saya, entah untuk yang keberapa kali saya sudah mengecap kan bibir saya karena panasnya kopi itu.

Selain mahasiswa, ternyata Bapak Bapak penjaga kampuspun yang biasanya berdiri tegap ditengah persimpangan jalan masuknya gerbang kampus pun ikut menikmati suasana santai di sana bersama pengunjung lainnya.

Pengunjung warung itu seakan melepas kepenatan sesaat yang terpahat di hidupnya, hal ini terlihat dari kerutan dahi yang sudah mulai bisa terlihat lebih rileks, dan entah sudah berapa batang rokok terbuang di lantai sedari tadi saya datang.

Beribu alasan logis yang membuat pengunjung warung kopi ini betah mengistirahatkan raganya untuk sejenak, termasuk saya.. Ada yang memiliki pemikiran harga yang terjangkau menjadi alasan mengapa dirinya melipirkan diri di warung kopi ini, ada juga yang berargumen bahwa hanya di warung kopi inilah mereka mendapatkan hiburan murah, seperti bisa membaca koran secara gratis yang telah disediakan oleh pemilik warung tersebut, atau mereka mampir hanya untuk membuang waktunya dengan harga yang murah.

Entah apa yang saya pikirkan saat ini ketika saya sedang menulis, tetapi saya hanya ingat 1 hal ketika saya hendak membayar pesanan saya, yaitu saya tidak perlu merogoh isi kantung saya terlalu dalam karena tarif untuk menikmati kenyamanan yang telah saya dapatkan di warung itu secara konvensional tidak lah begitu mahal..

Apakah masih pantas saya berkata ” harga mahal merupakan barometer dari sebuah kenyamanan ? ”

Mungkin saya sendiri bisa menjawab ” iya ” tetapi dalam kondisi sejauh mana itu bisa memenuhi kebutuhan batin seseorang, dan mungkin benar bila kata ” mahal ” tidak bisa diberi patokan.. Karena bsa jadi ” mahal ” bagi saya bisa dinilai ” murah ” bagi orang diluar sana😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s